Rabu, 29 April 2009

ETERIS/ ATSIRI PROSPEKTIF DI INDONESIA

ETERIS/ ATSIRI PROSPEKTIF DI INDONESIA

Beberapa jenis minyak yang prosfektif dikembangkan di Indonesia antara lain sebagai berikut :
1. Minyak Nilam
2. Minyak Kayu Putih
3. Minyak Sereh Wangi
4. Minyak Ylang-ylang
5. Minyak Kayu Manis
6. Minyak Akar Wangi
7. Minyak Pala
8. Minyak Jahe
9. Panili

1. MINYAK NILAM

Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan salah satu tanaman penghasil Eteris yang penting, baik sebagai penyumbang devisa maupun sebagai sumber pendapatan petani. Indonesia merupakan pemasok minyak nilam terbesar di pasar dunia dengan kontribusi sebesar 64%. Ekspor minyak nilam pada tahun 2004 sebesar 2.074 ton dengan nilai US $ 27.136 juta (Ditjen Perkebunan, 2006). Dalam dunia perdagangan internasional sering disebut patchouli oil. Adapun Negara-negara tujuan ekspor minyak nilam antara lain Jepang, Singapura, Amerika, dan Perancis.

Tabel 6. Ekspor minyak nilam Indonesia (BPS, 2005)
Tahun Volume
(kg) Harga/kg
(US$)
2001 1.189.000 17,30
2002 1.295.000 17,39
2003 1.127.000 17,00
2004 2.074.250 13,08
2005 (Jan-Mei) 1.102.982 7,16

Luas areal pertanaman nilam tahun 2003 sekitar 16.354 ha yang tersebar pada daerah-daerah sentra produksi nilam seperti :
- Nanggroe Aceh Darussalam (Tapaktuan, Sidikalang, Lhokseumawe)
- Sumatera Barat (Pasaman)
- Sumatera Utara (Dairi)
- Bengkulu
- Lampung
- Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan daerah lainnya

Produktivitas minyak nilam yang dihasilkan masih rendah rata-rata 199,48 kg/ha/tahun (Ditjen Bina Produksi Perkebunan, 2006). Rendahnya produksi disebabkan oleh rendahnya mutu genetik tanaman, teknologi budidaya, panen dan pasca panen yang belum tepat dan berkembangnya berbagai penyakit (Yang Nuryani, et al., 2006).

Jenis tanaman nilam yang umumnya dibudidayakan di Indonesia yaitu :
1. Pogostemon cablin, Benth (syn P.patchouly Pell.) atau dikenal sebagai nilam aceh dan banyak diusahakan di Aceh dan Sumatera Utara.
2. Pogostemon heyneanus, Benth atau dikenal sebagai nilam jawa atau nilam hutan.
3. Pogostemon hortensis, Benth atau dikenal juga sebagai nilam jawa atau nilam sabun ini tidak berbunga, kandungan minyaknya rendah, yaitu 0,5-1,5%.
Minyak nilam diperoleh dari hasil penyulingan (hidrodestilasi) daun dan tangkai tanaman nilam. Minyak nilam merupakan salah satu Eteris yang mempunyai titik didih relatif tinggi sehingga cukup baik dipergunakan sebagai bahan pengikat pada pembuatan parfum. Bahan-bahan pewangi yang dapat diikat oleh minyak nilam antara lain minyak mawar, melati, jahe, cengkeh, dan sereh (Kristina, 1992). Sup (1993) menambahkan bahwa minyak nilam mempunyai keunggulan dibanding Eteris yang lain, yaitu daya lekatnya cukup tinggi, tidak mudah menguap, tidak mudah tercuci, dapat larut dalam alkohol, dan dapat dicampur dengan minyak eteris lainnya. Kandungan senyawa minyak nilam, antara lain benzaldehid (2,3%), kariofilen (17,29%), a-patchoulien (28,28%), buenesen (11,76%) dan patchouli alkohol (40,04%). Kandungan minyak nilam pada daun sebesar 5-6%, batang, cabang dan ranting sebesar 0.4-0.5%.

Pengolahan nilam dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu pengadaan bahan baku mencakup budidaya dan pemanenan, penanganan pasca panen seperti pengecilan ukuran, pelayuan, dan pengeringan, dan proses penyulingan hingga tahap pengemasan.


Pemetikan sebaiknya dilakukan pada saat pagi hari atau menjelang malam hari, karena pada waktu tersebut kadar patchoulinya meningkat. Cara memangkas dan meninggalkan sisa tanaman nilam setinggi 40-50 cm. Daun nilam yang dipanen dipetik sebelum daun berubah menjadi berwarna coklat (masih berwarna hijau).


PENYULINGAN
Penyulingan daun nilam mencakup :
 Perajangan bahan ( batang, ranting, rimpang, buah, biji )
 Penjemuran dengan sinar matahari/oven, kadar air ± 12%
 Penggilingan dengan hammermill
 Penyulingan dengan metode uap langsung (steam distillation) akan memberikan hasil yang optimal.
 Penyulingan daun segar akan menghasilkan rendemen minyak yang rendah.
 Pencampuran dengan ranting nilam.

MUTU MINYAK NILAM
Faktor yang mempengaruhi :
1. Jenis tanaman dan umur panen
2. Perlakuan bahan olah sebelum ekstraksi
3. Sistem, jenis peralatan dan kondisi proses ekstraksi minyak
4. Perlakuan terhadap Eteris setelah ekstraksi
5. Pengemasan dan penyimpanan

Minyak nilam dapat digunakan di berbagai industri, seperti :
• Industri makanan, untuk bahan penyedap dan penambah cita rasa
• Industri bahan pengawet, sebagai insektisida.
• Industri kosmetik dan personal care products, dapat digunakan dalam pembuatan sabun, pasta gigi, lotion, skincare, produk-produk kecantikan, dan sebagainya.
• Industri parfum (aroma woodsy), digunakan untuk mengharumkan kamar tidur untuk memberi efek menenangkan.
• Industri farmasi :
> anti septik,anti jamur, anti jerawat,
> obat eksim, dan kulit pecah-pecah, serta ketombe,
> mengurangi peradangan, membantu mengurangi kegelisahan dan depresi,
> membantu penderita insomnia (gangguan susah tidur) dan meningkatkan gairah seksual,
> membuat tidur lebih nyenyak (anti-insomnia).
> penawar racun
minyak nilam murni (100%) yang diteteskan pada kapas dan diusapkan pada bagian yang digigit ular cobra, dapat menetralisir racun/bisa ular sebagai pertolongan pertama.
 Pewangi
Selain aromanya, minyak nilam juga berfungsi sebagai fiksatif, yaitu pengikat wangi, untuk parfum, dan air fresher.


2. MINYAK KAYU PUTIH

Minyak kayu putih (eucalypt oil atau kadang disebut oleum cajuputi, cajeput essential oil atau cajuput or cajeput oil) sudah menjadi kebutuhan yang penting dalam banyak rumah tangga di Indonesia. Minyak ini digunakan sejak jaman dulu sebagai antiseptik, obat sakit perut, obat flu atau digunakan untuk pijatan (urut) ringan dan sebagainya. Di bidang industri, minyak kayu putih adalah salah satu bahan baku industri obat-obatan maupun di industri kosmetik.
Minyak kayu putih tergolong sebagai Eteris yaitu minyak yang mudah menguap, dan dihasilkan dari tanaman melalui penyulingan daun. Tanaman penghasil minyak kayu putih yaitu Melaleuca leucadendron dan Eucalyptus spp. Namun yang paling populer di Indonesia umumnya minyak kayu putih yang berasal dari Melaleuca leucadendron atau Melaleuca cajuputi. Melaleuca ini dikenal dengan nama yang berbeda-beda di Indonesia dan di mancanegara. Pohon ini juga mampu tumbuh di daerah dengan curah hujan rendah maupun curah hujan tinggi. Namun pohon yang menghasilkan rendemen minyak kayu putih yang tinggi umumnya berasal dari daerah kering seperti Gunung Kidul (Yogyakarta), Pulau Buru di Maluku, Pulau Timor, NTT, dan Rote serta daerah kering lainnya di Maluku dan Papua.
Budidaya Kayu Putih di Indonesia berasal dari hutan alam dan hutan buatan. Hutan alam kayu putih terdapat di daerah Sumatera Selatan, Sulawesi tenggara, Maluku (P.Buru, P. Seram, Nusa Laut, Ambon), Bali, NTT, dan rian Jaya. Sedangkan hutan buatan dapat ditemukan di wilayah Jawa Timur (Ponorogo, Kediri, Madiun), Jawa tengah (Gala, Gundih, Grobogan, Purwodadi), DIY (Gunung Kidul, Bantul), dan Jawa Barat (Banten, Bogor, Sukabumi, Indramayu, Majalengka).

Produksi Minyak Kayu Putih
Dahulu Indonesia telah mengekspor minyak kayu putih. Minyak kayu putih dari Pulau Buru di Sulawesi termasuk mutu terbaik. Namun kebutuhan domestik jauh lebih besar dari produksinya, kira-kira sebesar 1.500 ton/tahun dengan produksi <>
Pengolahan Minyak Kayu Putih
Bahan baku dapat mempengaruhi mutu minyak yang dihasilkan. Bahan baku yang bermutu tinggi dapat menghasilkan minyak dengan mutu yang tinggi. Tanaman kayu putih tidak memerlukan syarat tumbuh spesifik (5-450 dpl). Bagian daun kayu putih merupakan bagian yang paling baik untuk menghasilkan minyak. Pemanenan dilakukan setelah tanaman berumur 5 tahun, dan setiap kali panen dapat dihasilkan 50-100 kg daun & ranting. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, karena pada waktu tersebut kandungan minyak cukup tinggi.
Pada tahap pasca panen, dilakukan pengecilan ukuran, pelayuan, dan pengeringan. Pengecilan ukuran dilakukan agar kelenjar minyak pada tanaman dapat terbuka sebanyak mungkin sehingga volume penyulingan lebih besar. Pelayuan & Pengeringan bertujuan untuk mengeluarkan kadar uap air dalam bahan selama 3-5 hari (tergantung cuaca).
Proses penyulingan atau hidrodestilasi dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh minyak dengan mutu baik. Hidrodestilasi adalah difusi Eteris dan air panas melalui membran bahan yang disuling. Kemasan yang dipakai untuk wadah yaitu botol kaca, drum timah putih, drum lapis timah putih, atau kemasan besi galvanis.
Proses penyimpanan dapat menyebabkan menurunkan rendemen, menurunkan kualitas minyak, terjadi hidrolisis atau resinifikasi tergantung kondisi penyimpanan.
Minyak kayu putih memiliki beberapa komponen, yang dominan adalah sineol. Mutu minyak kayu putih ditentukan oleh kadar sineol. Kadar sineol tinggi maka mutu minyak tinggi. Mutu minyak kayu putih dipengaruhi oleh cara penyimpanan daun, cara penyajian daun, cara pengisian daun ke ketel, kondisi penyulingan, dan jenis atau varietas pohon.

Aplikasi Minyak Kayu Putih
• Industri yang mengunakan minyak kayu putih antara lain :
• Industri Jamu/farmasi : Obat luar (minyak kayu putih, balsem) terapi uap, Obat dalam, dengan diminum.
• Industri kosmetik : Pasta gigi, sabun, parfum
• Industri makanan : Permen
• Aplikasi lain : Lilin aromaterapi, blended cream, in the bath

Obat Luar
Beredar di pasaran dengan berbagai merek produk dalam bentuk cair dan balsem.
Minyak telon
Campuran minyak kayu putih, minyak adas dan minyak serai
Memberikan rasa hangat karena merangsang pembuluh darah membesar sehingga aliran darah menjadi lebih cepat.
Efek yang terjadi adalah rasa hangat dan nyaman.
Balsem
Campuran menthol, minyak kayu putih, mint oil, vaselin dan lain sebagainya.
Digunakan untuk gosok, kerik dan pijat.
Dapat menyembuhkan penyakit flu ataupun demam.
Terapi uap
Terapi sistem pernafasan, mengurangi infeksi dan rasa sakit. Selain itu dapat menjernihkan pikiran.
Massage Oil
Mengurangi rasa sakit, encok, rheumatik, dan penyakit lainnya.
Sabun minyak kayu putih
Minyak kayu putih digunakan sebagai bahan tambahan pada formula sabun mandi. Sabun tidak memerlukan pewangi tambahan
Namun dapat memberi rasa segar.
Pasta gigi
Minyak kayu putih digunakan sebagai bahan tambahan pada formula pasta gigi, yang berfungsi dapat menyehatkan gigi.
Lilin aromaterapi
- Untuk relaksasi
- Sebagai perlengkapan spa dan terapi-terapi lainnya.
Permen kayu putih
Minyak kayu putih digunakan sebagai tambahan pada formula permen (hard candy). Memberikan efek melegakan tenggorokan. Dikenal dengan permen herbal atau medicated sweets yang dikenal sebagai permen fungsional.
Penggunaan pada saat mandi
Dapat menurunkan demam dengan menggunakan pengaruh cooling.
Blended cream
Campuran formula cream wajah. Dapat mencegah jerawat dan penyakit kulit.
Pemasaran Minyak Kayu Putih

3. MINYAK YLANG-YLANG

Ylang-ylang (Cananga odoratum forma genuine) merupakan tanaman berbentuk pohon yang menghasilkan Eteris. Tanaman ini sekerabat dengan kenanga (Cananga odoratum forma macrophylla), keduanya termasuk famili Annonaceae. Tanaman kenanga sudah lama dibudidayakan di Indonesia, sedangkan tanaman ylang-ylang belum lama dikembangkan. Aroma minyak ylang-ylang lebih lembut dan lebih wangi dari minyak kenanga karena kandungan ester dan linalolnya yang lebih tinggi (Guenther, 1952 dan Rusli et al., 1987). Bunga ylang-ylang sudah sejak dulu digunakan sebagai pewangi maupun sebagai hiasan (Oyen and Dung, 1999; Bown, 2001).

Minyak Ylang-ylang diperoleh dari bunga ylang-ylang dengan cara destilasi (peryulingan). Di pasar dunia, minyak ylang-ylang diperdagangkan dalam 4 jenis mutu yaitu Ekstra, I, II, dan III. Pembeda dari keempat jenis mutu tersebut adalah interval waktu pengambilan minyak selama proses penyulingan (Anon, 1970 dan Guenther, 1952).
Minyak yang diperoleh dari fraksi pertama disebut dengan mutu Extra, biasanya sekitar 40% dari keseluruhan minyak yang dihasilkan, dan mempunyai bau (odor) yang manis dan eksotik. Komponen minyak Ylang-ylang dengan mutu Ekstra ini meliputi benzaldehid, linalool, α-kariofilen, α-humulen, benzil format, benzil asetat, benzil alkohol, safrol, dan iso-eugeno. Kandungan dalam mutu I, II, III, IV adalah tanpa benzaldehid, α-humulen, dan komponen lain dalam jumlah berbeda.
Untuk minyak ylang-ylang, sifat kimia yang sangat mempengaruhi mutu dan selalu dipertimbangkan oleh para konsumen adalah bilangan ester dan bilangan penyabunan yang tinggi. Bunga yang masih hijau dan sudah kuning, dari segi rendemen tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata, namun dilihat dari bilangan ester dan bilangan penyabunan, bunga yang kuning mempunyai nilai yang lebih tinggi sehingga mutunya pun jauh lebih tinggi dibanding bunga yang masih hijau.
Mutu minyak Ylang-ylang dipengaruhi oleh Pra – Panen dan Pasca – Panen, seperti tingkat ketuaan bunga, penanganan bunga, cara penyulingan, pengemasan, dan penyimpanan.
Produksi Minyak Ylang-Ylang
Negara penghasil utama minyak ylang-ylang ini adalah pulau Comoro & Kepulauan Reunion, sedangkan di Indonesia, produksi minyak Ylang-ylang terbatas pada daerah tertentu seperti Jawa barat, Malingping (502 Ha) dan Jawa Timur, Blitar. Di Jawa Barat saja, dari satu hektar pohon dapat ditanam 200 pohon kenanga, dan dihasilkan 50kg bunga/phn/th. Dengan produktivitas sebanyak 90% dan rendemen 1,5% maka dapat diperoleh minyak sebanyak 6.777 kg/thn.

Pemasaran Minyak Ylang-Ylang
Kondisi pasar
Kebutuhan dunia 120-130 ton
b. Indonesia mengekspor minyak kananga (50 ton/tahun)
Nilai ekspor semakin menurun
c. Minyak Ylang-ylang mutu III
a. Dalam negeri : perkembangan industri kosmetik dan aromaterapi
b. Ekspor
1. Ylang-ylang mutu III
2. Ylang-ylang mutu yang sesuai dengan pasar
Pasar utama minyak Ylang-ylang adalah UE, AS & Jepang (72 % dari total kebutuhan dunia), dan Perancis pengguna minyak ylang-ylang terbesar di dunia (>45%).

Harga minyak ylang-ylang di dunia mencapai US$ 110/kg, lebih besar tiga kali dari harga minyak kenanga. Minyak Ylang-Ylang dihasilkan dari penyulingan bunga. Mutu bunga cepat menurun, sejalan dengan waktu (tranportasi & penyimpanan). Oleh karena itu bunga segar hasil panen harus segera disuling.
Perlu pengembangan Industri penyulingan di sentra-sentra poduksi seperti Industri Besar (Perhutani/swasta), ataupun Industri Menengah/Kecil (Kelompok tani/IKM).

Ylang-ylang & Aromaterapi
Istilah aromaterapi belum lama berkembang di Indonesia, namun sebetulnya aromaterapi sudah sejak dahulu dilakukan oleh nenek moyang kita. Aromaterapi berasal dari dua kata, yaitu aroma dan terapi. Aroma berarti bau harum atau bau-bauan dan terapi berarti pengobatan. Jadi aromaterapi adalah salah satu cara pengobatan penyakit dengan menggunakan bau-bauan yang umumnya berasal dari tumbuh-tumbuhan serta berbau harum, gurih, dan enak yang disebut dengan Eteris.
Eteris mengandung bahan kimia asli berupa zat antiseptik seperti fenol dan alkohol dan molekul-molekul lain yang mempunyai khasiat menyembuhkan berbagai penyakit serta menyebarkan bau harum. Di samping khasiat antioksidan, molekul-molekul alam dapat meningkatkan kekebalan tubuh secara alami (Primadiati dalam Anon, 2003). Penelitian ini menunjukkan bahwa bahan pewangi dapat memberikan perubahan pada aktifitas elektromagnetik dari otak, denyut jantung, kualitas mental dan fisik, mood, tekanan darah, otot yang tegang, dan temperatur kulit (Hongratanaworakit, 2004).
Minyak ylang-ylang dikenal sebagai antidepressi, dalam pengobatan secara aromaterapi dapat membuat rileks badan, menyeimbangkan perasaan dan meningkatkan spirit. Secara fisik dipakai untuk menurunkan tekanan darah, melemaskan otot tegang, dan mengurangi gejala PMS dan menopause.
Penelitian terhadap tikus, kelinci dan manusia, minyak ylang-ylang dapat menghilangkan stress sebanyak 50 % dengan menghirup minyak ylang-ylang yang akan berhubungan dengan penurunan tekanan darah dan denyut jantung, serta meningkatnya perhatian dan daya tanggap (alertness) orang yang menghirupnya (Fruend, 1999 dalam Buckle, 2003; http:www.Stevenfoster.com/).
Walaupun Eteris dapat digunakan sebagai bahan pengobatan dalam aromaterapi, namun penggunaanya harus diawasi karena pada dosis yang tinggi dapat menyebabkan keracunan dan alergi.
Minyak ylang-ylang ini dapat juga digunakan sebagai antibakteri, mengobati eksim, dan menghilangkan gatal karena gigitan serangga. Untuk perawatan muka, minyak ylang-ylang dapat menolong menyeimbangkan produksi lemak yang sangat baik untuk kulit berminyak, sedangkan untuk rambut, dapat menstimulasi pertumbuhan rambut dan baik ditambahkan pada formulasi sampo dan pelembab. Dalam penggunaanya, minyak ylang-ylang biasa dikombinasikan dengan minyak bergamot, lavender, lemon, dan narcissus. Aplikasi minyak ylang-ylang ini dapat dipergunakan pada industri kosmetik seperti untuk pembuatan body wash, parfum, body cream, dan lain-lain seperti yang ditunjukkan pada Gambar 18 di bawah ini.

4. MINYAK SEREH WANGI

Sereh merupakan salah satu jenis rumput-rumputan yang merupakan jenis tanaman tahunan yang membentuk rumpun tebal dengan tinggi sampai 2 meter. Nama ilmiahnya Cymbopogon citratus. Tanaman ini hidup baik di daerah yang udaranya panas maupun basah, sampai ketinggian 1000 m di atas permukaan laut. Cara berkembangbiaknya dengan anak atau akarnya yang bertunas. Supaya daunnya tumbuh subur dan lebat, sebaiknya penanaman dilakukan dengan jarak sekitar 65 cm per baris.
Ada kemungkinan Malaysia dan Sri Langka merupakan tempat asal jenis tanaman ini. Sekarang jenis ini telah tersebar di daerah-daerah tropik lainnya dan ditanam untuk minyaknya, terutama di negara-negara Guatemala, Brazil, Hindia Barat, Indo Cina, Kongo, Republik Malagasy dan Tanzania. Dalam setahun 1 hektar tanah dapat menghasilkan rata-rata 30 ton daun sereh yang dapat disuling untuk diambil minyak serehnya sebanyak 45-80 kg. Tanaman ini dapat dipanen setelah berumur 4-8 bulan. Panen dapat dilakukan dengan cara memotong rumpun dekat tanah, setiap 3-4 bulan sampai tanaman berumur 5 tahun. Hasil daun basah kira-kira 10 - 15 ton/ha/tahun dengan kadar minyak 0,5% dan 1,2%.
Secara umum, sereh dibagi menjadi 2 jenis, yaitu sereh dapur (lemongrass) dan sereh wangi (sitronella). Keduanya memiliki aroma yang berbeda. Minyak sereh yang selama ini dikenal di Indonesia merupakan minyak sereh wangi (citronella oil) yang biasanya terdapat dalam komposisi minyak tawon dan minyak gandapura.
Minyak sereh wangi telah dikembangkan di Indonesia dan Eterisnya sudah diproduksi secara komersial dan termasuk komoditas ekspor. Sedangkan minyak sereh dapur (lemongrass oil) belum pernah diusahakan secara komersial. Dari segi komposisi kimianya, keduanya memiliki komponen utama yang berbeda. Sereh wangi kandungan utamanya adalah citronella, sedangkan sereh dapur adalah sitral.
Negara produsen utama minyak sereh wangi ini yaitu Indonesia, Cina, Madagaskar, Afrika selatan, dan Srilanka. Indonesia adalah produsen minyak sereh wangi terbesar setelah Cina. Hampir 75% diekspor dalam bentuk minyak kasar. Impor turunan Eteris 2.1 kali nilai ekspor. Rata-rata ekspor Indonesia ke Amerika Serikat Periode 2001-2005 sebanyak 79.480 kg/th dengan nilai ekspor sebesar 389.400 US/tahun (Department of Commerce, U.S. Census Bureau, Foreign Trade Statistics 2006, HS No 3301295011). Rata-rata Impor Indonesia dari Amerika Serikat Periode 2001-2005 dalam bentuk mixture odor sebesar 9.490.400 US/tahun (Department of Commerce, U.S. Census Bureau, Foreign Trade Statistics 2006, HS No 3302100000).

Minyak sereh wangi dihasilkan dengan cara menyuling daun sereh wangi yang mengandung kurang dari 0.5-1.2% minyak. Bahan yang terpenting dalam minyak sereh wangi adalah persenyawaan aldehid dengan nama sitronellal dan persenyawaan alkohol disebut geraniol. Kadar sitronellal dan geraniol sangat menentukan mutu minyak sereh wangi. Jenis tanaman sereh yang menghasilkan produksi dan mutu yang terbaik adalah jenis “Mahapengiri” yang banyak ditanam di Pulau Jawa. Jenis tanaman ini mengandung 80-97% total geraniol dan 30-45% sitronellal. Sedangkan jenis “Lenabau” dari Ceylon hanya mengandung 55-65% total geraniol (Ketaren, 1985).
Sifat kimia minyak sereh wangi ditentukan oleh senyawa-senyawa yang terdapat di dalamnya, terutama sitronellal, geraniol, dan sitronellol. Ketiga senyawa ini mempunyai ikatan rangkap. Mengingat adanya ikatan rangkap pada senyawa-senyawa di dalam minyak sereh wangi, maka penyebab kerusakan atau penurunan mutu minyak sereh wangi disebabkan oleh adanya proses oksidasi dan polimerisasi (resinifikasi). Proses oksidasi dapat menyebabkan perubahan bau dan warna serta menurunkan jumlah geraniol, sitronellal, dan sitronellol. Proses resinifikasi akan menyebabkan minyak sereh wangi kelihatan keruh. Selain itu penurunan mutu minyak sereh wangi juga dapat disebabkan karena reaksi hidolisis senyawa ester yang terdapat di dalam minyak sereh wangi, seperti senyawa geranil asetat, sitronellil asetat, dan linalil asetat. Hidrolisis senyawa ester akan menimbulkan bau yang tidak enak karena terjadi pembentukan asam-asam organik berantai karbon lebih pendek (Ketaren, 1985).
Minyak sereh wangi biasanya berwarna kuning muda sampai kuning tua, bersifat mudah menguap. Pada suhu 15ºC mempunyai bobot jenis 0,886-0,894; indeks bias pada suhu 20ºC adalah 1,467-1,473. Dapat larut dalam 3 bagian volume alkohol 80% tetapi bila diencerkan kelarutannya berkurang dan larutan menjadi keruh (Guenther, 1987).
Minyak sereh wangi bersifat menenangkan, menyegarkan dan mempertajam pikiran, dapat digunakan sebagai penolak serangga dan kucing, untuk perawatan kulit, dan sebagai obat urut.


5. MINYAK AKAR WANGI

Minyak akar wangi merupakan komoditi ekspor Indonesia yang cukup potensial. Daerah sentra produksi minyak akar wangi ini terdapat di daerah Garut, Jawa Barat. Sampai saat ini sesuai dengan data yang ada, pasar luar negeri yang menyerap produk Minyak Akarwangi Garut adalah para pengusaha dari kawasan Asia, Eropa dan Amerika khususnya negara-negara seperti Singapura, India, Jepang, Hongkong, Inggris, Belanda, Jerman, Italia, Swiss, dan Amerika Serikat. Peluang ekspor untuk pemasaran minyak Akarwangi yang juga masih cukup terbuka khususnya ekspor untuk kawasan Asia Selatan dan Asia Timur, Eropa Timur dan Amerika Selatan.
Minyak akar wangi diperoleh dari penyulingan tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides Staph). Akar wangi (Vetiveria zizanoides), termasuk dalam famili Graminae, biasanya tumbuh di daerah tropis seperti India, Tahiti, Haiti dan Indonesia (khususnya Jawa) (Anon, 2006). Tanaman ini selain mengandung Eteris, juga bisa dimanfaatkan untuk mencegah erosi, vegetasi konservasi karena bentuk akarnya yang kuat (Emmyzar et al., 2000).
Minyak akar wangi banyak digunakan dalam industri parfum, bahan kosmetik, obat-obatan, antiseptik, afrodisiak, sedativ, tonik dan bisa dimanfaatkan sebagai biopestisida (Anon, 2006; Kamal and Ashok, 2006; Emmyzar et al., 2000). Minyak akar wangi juga memiliki bau yang keras (dosis tertentu). Sering dilakukan pencampuran dengan minyak nilam dan minyak mawar. Mampu membunuh larva nyamuk sehingga sering digunakan sebagai obat nyamuk.
Komponen utama dari minyak akar wangi adalah senyawa golongan seskuiterpen (3-4 %), seskuiterpenol (18-25 %) dan seskuiterpenon seperti asam benzoat, vetiverol, vetiverol, furfurol,  dan  vetivone, vetivene dan vetivenil vetivenat (Anon, 2006; Kamal and Ashok, 2006; Emmyzar et al., 2000).

Khasiat Minyak akar wangi
• melemaskan dan menyegarkan pikiran dan tubuh
• membantu menurunkan tekanan darah
• meningkatkan sirkulasi darah
• menenangkan dan menstabilkan emosi
• membantu mengatasi stres dan mengembalikan keadaan emosi.

6. KAYU MANIS

Minyak kayu manis dihasilkan dari tanaman kayu manis yaitu kulit batang, kulit cabang, ranting, daun dan dahan. Kadar Eteris pada kulit kayu dapat mencapai 4%. Kulit kayu manis mengandung damar, pelekat, tanin (zat penyamak), gula, kalsium, oksalat, insektisida, cinnzelanol, cumarin.
Khasiat dan Manfaat Kayu Manis :
• Banyak digunakan sebagai bumbu masak, pembalsaman mumi, antiseptik (memiliki daya bunuh terhadap mikroorganisme) dan jamu untuk penyakit disentri
• Minyak kayu manis sebagai penyembuh reumatik, pilek, sakit usus, jantung, pinggang, darah tinggi
• Kayu manis untuk kesuburan wanita
• Memiliki efek mengeluarkan angin, membangkitkan selera, menguatkan lambung
• Minyak kayu manis untuk pewangi dan peningkat cita rasa pada pengolahan pangan
• Minyak kayu manis untuk industri kosmetik

Jenis – jenis kayu manis yang diperdagangkan (lokal maupun ekspor) :
1. Cinnamomum burmanni
Cinnamomum burmanni merupakan tanaman asli Indonesia. Dalam dunia perdagangan dikenal dengan cassiavera, kaneel cassia. Sentra budidaya tanaman ini terdapat di daerah Sumatera Barat dan Utara, Jambi, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku
Tanaman ini memiliki ukuran daun yang kecil dan kaku. Pemanenan terhadap kulit batang dan ranting. Komponen utama pada Eteris yaitu sinamat aldehida.
2. Cinnamomum zeylanicum
Tanaman kayu manis jenis ini berasal dari Srilanka (P. Ceylon). Kualitasnya lebih baik dibanding C. Burmanni. Memiliki kulit batang lebih tipis. Destilasi kulit menghasilkan 0.5-1% Eteris.
3. Cinnamomum cassia
Jenis kayu manis ini merupakan tanaman asli Birma. Dalam dunia perdagangan dikenal dengan chinese kaneel. Warna pucuknya bervariasi. Kandungan Eterisnya terdapat pada kulit batang, kulit cabang, ranting, dan daun tanaman kayu manis. Kadar Eteris pada masing-masing bagian tersebut adalah kulit cabang (4.05%), kulit batang (3.78%), kulit ranting (3.95%), daun (0.98%).
4. Cinnamomum cullilawan
Dikenal hanya di Ambon dan Maluku. Diperdagangan di dalam negeri dalam jumlah yang sedikit.
Komposisi Eteris kayu manis sangat dipengaruhi oleh asal daerah. Kandungan terbesar adalah sinamat aldehida (60-75%), dengan komponen lainnya yaitu eugenol, aldehid lain, benzil-benzoat, felandren
Mutu Minyak kayu manis ditentukan oleh kandungan eugenol dan sinamat aldehida.


7. MINYAK PALA

Pala [Myristica fragrans Houtt] merupakan salah satu komoditi pertanian yang memiliki nilai ekonomis tinggi, di samping berjenis-jenis komoditi pertanian ekonomis lainnya. Sebagai tanaman rempah-rempah, pala dapat menghasilkan minyak etheris dan lemak khusus yang berasal dari biji dan fuli. Biji pala menghasilkan 2 sampai 15% minyak etheris dan 30 - 40 % lemak, sedangkan fuli menghasilkan 7 - 18%, minyak etheris dan 20 - 30 % lemak (fuli adalah arie yang berwarna merah tua dan merupakan selaput jala yang membungkus biji).
Permintaan pasar dunia akan pala setiap tahun terus meningkat, dan tidak kurang dari 60 % kebutuhan pala dunia didatangkan dari Indonesia.
Pala di Indonesia dihasilkan dari perkebunan rakyat. Luas areal pertanaman pala adalah sebesar 43.873 ha (tahun 2000). Pohon pala dapat berbuah sepanjang tahun. Dalam setahun tanaman pala dapat di petik dua kali, yang setiap daerah biasanya waktunya tidak sama. Umumnya buah pala dipanen setelah cukup tua, yang ditandai dengan merekahnya buah, umurnya + 6 bulan sejak berbunga.

Biji dan Fuli Pala kering
Digunakan untuk industri pengawetan ikan, pembuatan sosis, makanan kaleng, adonan kue.Pemanenan dilakukan terhadap buah yang hampir tua. Ditandai dengan biji keras, warna coklat tua, fuli merah muda. Penyulingan biji dan fuli pala menghasilkan Eteris dengan komponen minyak yang sama. Pengempaan biji dan fuli pala menghasilkan nutmeg concrete.
Biji pala mengandung minyak lemak (fixed oil) sebanyak 25 - 40%, buah pala yang hampir tua mengandung minyak 7-15%. Minyak lemak ini dapat diperoleh dengan cara menggiling dan memeras biji pala tersebut. Apabila minyak lemak tidak dikeluarkan lebih dahulu, pada penyulingan akan ikut tersuling dan akan sulit dipisahkan dari minyak palanya. Setelah biji pala digiling kemudian dimasukkan bejana, dan dilakukan penyulingan selama +10 - 30 jam. Setelah disaring, minyak ditampung ke dalam botol penampung yang digunakan untuk memisahkan air dari minyak, rendemen minyak yang diperoleh berkisar antara 7-16 %. Minyak pala berupa cairan yang hampir tidak berwarna/kuning muda, dengan bau khas pala, apabila disimpan akan menyerap oksigen dan menjadi kental.
Minyak pala dihasilkan dari penyulingan biji dan fuli pala, dapat digunakan sebagai bahan baku industri obat-obatan, pada pembuatan sabun dan parfum. Komponen utamanya yaitu myristicin dengan persentase sebesar 8.19%.

Minyak pala merupakan cairan jernih (hampir tidak berwarna – kuning muda), diperoleh dari proses penyulingan serbuk biji dan fuli pala. Minyak pala ini mengandung unsur-unsur psikotropik (berkhayal, halusinasi), memiliki daya bunuh yang hebat terhadap larva serangga, dan dapat digunakan sebagai penyegar pasta gigi, pencampur aroma tembakau. Komponen yang terdapat dalam minyak pala ini diantaranya adalah eugenol, iso-eugenol, terpineol, borneol, linalol, geraniol, safrole, terpene, aldehide.
Minyak pala memiliki khasiat mengatasi masalah sirkulasi darah, otot, persendian, asam urat (gout), sakit dan nyeri otot, rematik, kembung, salah pencernaan, lemah pencernaan, mual, dan membantu melawan infeksi bakteri. Minyak pala ini dieksport ke Singapura, Perancis, Inggris, Nederland dan Amerika Serikat.

Di pasaran dunia terdapat 2 (dua) mutu pala destilasi yaitu :
- Mutu I kode AZWI, yaitu buah pala tanpa batok yang dikeringkan, umumnya berasal dari buah muda berumur 2 - 2,5 bulan.
- Mutu II kode ETEZ, yakni buah pala yang dikeringkan, umumnya berasal dari buah muda berumur 2 - 5 bulan.

8. MINYAK JAHE

Jahe (Zingiber officinale Roxb ) merupakan tanaman terna berbatang semu, tumbuh berumpun, tinggi 30 cm – 1m, tegak, tidak bercabang, tersusun atas lembaran pelepah daun, berbentuk bulat, berwarna hijau pucat dengan warna pangkal batang kemerahan.
Bagian tanaman yang digunakan untuk bahan industri yaitu rimpangnya. Ada tiga jenis jahe yang dibudidayakan antara lain :
1. Jahe putih besar (gajah)
Merupakan jahe yang paling disukai di pasaran internasional. Bentuknya besar gemuk dan rasanya tidak terlalu pedas. Daging rimpang berwarna kuning hingga putih.Digunakan oleh industri makanan (permen, jahe instan, sirup)
2. Jahe putih kecil (emprit)/kuning
Merupakan jahe yang banyak dipakai sebagai bumbu masakan, terutama untuk konsumsi lokal. Rasa dan aromanya cukup tajam. Ukuran rimpang sedang dengan warna kuning.
3. Jahe merah (sunti)
Jahe jenis ini memiliki kandungan minyak asiri tinggi dan rasa paling pedas, sehingga cocok untuk bahan dasar farmasi (pengobatan) dan jamu. Ukuran rimpangnya paling kecil dengan warna merah.
Jahe mengandung sejumlah kecil minyak volatil dan fixed oil yang mengandung zat resin yang pedas, 40—60% pati, 9% protein, beberapa jenis mineral dan vitamin.
Menurut Rismunandar (1988) komposisi kimia jahe menentukan tinggi rendahnya nilai aroma dan pedasnya jahe. Beberapa faktor yang mempengaruhi komposisi jahe antara lain adalah jenis tanaman, sifat tanah tempat penanaman, umur panen, perlakuan pra dan pasca panen, cara pengolahan, dan ekosistem tempat tanaman jahe.
Sifat khas jahe disebabkan oleh adanya Eteris dan oleoresin. Aroma jahe disebabkan oleh gingerol dan shogaol yang banyak terdapat pada oleoresin jahe (Guenther, 1948). Kandungan Eteris pada jahe sebesar 1,7-3,8%.
Minyak jahe merupakan hasil penyulingan dan destilasi rimpang jahe, memiliki bau harum, tapi rasa tidak pedas. Komponen utama pada minyak jahe ini adalah seskuiterpen-zingiberen, sedangkan kandungan lainnya cukup banyak, seperti a dan β felandren, d-kamfen, asetil heptenon, n-desil aldehid, n-nonil aldehid, borneol, sineol, linalol, sitral dan sesquiterpen alcohol.
Berbagai teknik penyulingan untuk mendapatkan Eteris pada tanaman jahe antara lain dengan :
1. Metode perebusan: Bahan direbus di dalam air mendidih. Eteris akan menguap bersama uap air, kemudian dilewatkan melalui kondensor untuk kondensasi. Alat yang digunakan untuk metode ini disebut alat suling perebus.
2. Metode pengukusan: Bahan dikukus di dalam ketel yang konstruksinya hampir sama dengan dandang. Eteris akan menguap dan terbawa oleh aliran uap air yang dialirkan ke kondensor untuk kondensasi. Alat yang digunakan untuk metode ini disebut suling pengukus.
3. Metode uap langsung: Bahan dialiri dengan uap yang berasal dari ketel pembangkit uap. Eteris akan menguap dan terbawa oleh aliran uap air yang dialirkan ke kondensor untuk kondensasi. Alat yang digunakan untuk metode ini disebut alat suling uap langsung.
Untuk skala kecil seperti yang dilakukan oleh kebanyakan petani, metode pengukusan paling sering digunakan karena mutu produk cukup baik, proses cukup efisien, dan harga alat tidak terlalu mahal. Untuk skala besar, metode uap langsung yang paling baik karena paling efisien dibanding cara lainnya.


Tabel 18. Patokan mutu Ginger Oil (EOA)
No Karakteristik Syarat
1 Penampilan, warna Cairan kuning muda sampai kuning
2 Berat jenis 25oC 0.871-0.882
3 Putaran optik (-28o)-(-45o)
4 Indeks refraksi 20oC 1.4880-1.4940
5 Bilangan penyabunan Tidak lebih dari 20
6 Kelarutan dalam alkohol Larut dengan kekeruhan
Sumber : Lutony dan Rahmayati (2002)

Aplikasi Minyak Jahe
Minyak Jahe banyak memiliki khasiat, seperti mengurangi gejala flu, pilek, batuk, masuk angin, pegal-pegal, sebagai penyegar badan, serta berkhasiat sebagai obat kuat.
Industri pengguna minyak jahe :
• Industri minuman
• Industri penyedap
• Farmasi
• Industri wewangian

9. PANILI

Panili adalah salah satu komoditas Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi karena kandungan flavor panili (senyawa aromatik aldehid) yang dihasilkannya. Nilai ekonomi panili dapat dilihat dari nilai panili kering di tingkat eksportir yang cukup tinggi yaitu US$ 80/kg untuk mutu I, US$ 60-70/kg mutu II dan US$ 40-50/kg untuk mutu III. Mutu ekspor panili Indonesia sebagian besar berada pada tingkat standar mutu tiga karena kadar Vanillinny <>
Indonesia merupakan salah satu dari empat negara pengekspor panili terbesar di dunia. Produksi panili Indonesia pada tahun 2002 mencapai 2.731 ton, sedangkan konsumsi panili dunia mencapai sekitar 1600-1800 ton (US$ 80 juta) per tahun. Negara pengkonsumsi panili terbesar adalah Amerika yaitu lebih dari 50% total produksi panili, diikuti oleh Eropa, Jepang dan Australia. Impor panili AS dari dunia tercatat senilai US$ 289.41 juta (2003) dimana kebutuhan tersebut dipenuhi Indonesia sebesar 21.62%. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 19. Volume dan Nilai Ekspor Panili Indonesia
Tahun Volume Ekspor Nilai Ekspor
2000 496 ton US$ 19.309.000
2001 350 ton US$ 8.503.000
2002 360 ton US$ 19.160.000

Panili digunakan secara luas pada industri pangan terutama sebagai flavor dan pada industri parfum. Flavor panili ada yang alami dan ada yang sintetis. Flavor panili sintetis hanya mengandung salah satu komponen flavor vanilla yaitu vanillin atau etil vanillin (Boyce et.al, 2003), sehingga aroma yang dihasilkan tidak sekaya aroma ekstrak panili alami. Dalam ekstrak panili alami, terkandung 100-200 komponen flavor. Lebih dari seratus senyawa volatil yang terdeteksi, termasuk karbonil aromatik, alkohol aromatik, asam aromatik, ester aromatik, phenol dan phenol ester, alkohol alifatik, karbonil, asam, ester, dan laktone, di mana aldehid vanillin adalah yang paling dominan (Pérez-Silva et al., 2005). Setiap jenis ekstrak panili memiliki profil aroma yang berbeda-beda tergantung tempat tumbuhnya dan spesiesnya. Beberapa jenis ekstrak panili diantaranya Bourbon Vanilla, Mexican vanilla, Tahiti Vanilla, Guadaloupe vanillon dan Indonesian vanilla.
Panili Indonesia (Vanilla planifolia) memiliki flavor yang kurang manis dan creamy dibanding Bourbon. Selain itu juga memiliki flavor kayu, asap, jerami. Meskipun pengolahan yang lebih baik telah menghilangkan sebagian besar flavor asap, profil panili Indonesia hanya memiliki satu dimensi dibanding Bourbon. Kualitas panili Indonesia lebih rendah dibanding potensi sebenarnya, hal ini disebabkan oleh pemanenan yang belum matang dan proses curing yang kurang sempurna. Permasalahan dengan panili Indonesia disebabkan karena panili yang masih muda sudah dipanen, padahal flavornya belum berkembang sepenuhnya. Selain itu panen dilakukan sekaligus dalam satu kebun, sehingga tingkat kematangannya bervariasi. Proses kuring yang dilakukan juga terkadang dengan pemanasan berlebih sehingga menyebabkan karakter flavor menyimpang. Hal inilah yang menyebabkan mutu panili Indonesia kurang baik.
Namun panili Indonesia juga masih memiliki keunggulan diantaranya adalah lebih tahan panas, dan mudah dicampur dengan flavor panili lain untuk mendapatkan karakteristik tertentu. Panili yang dihasilkan sangat cocok sebagai bahan aditif (flavour) pada cookies dan coklat.
Proses kuring dilakukan pada panili yang masih hijau dan tidak berbau karena masih mengandung Phenolic glycosides, vanillin, vanillic acid,
p-hydroxybenzaldehyde, p-hydroxybenzoic acid, vanillyl alcohol, cetovanillon, dan p-hydroxybenzyl alcohol (Kanisawa, 1993). Proses kuring dapat dilakukan dengan cara hidrolisis secara enzimatis, kimia, ataupun mikrobiologis.
Secara garis besar, di dalam proses curing terdapat empat tahapan utama yaitu pelayuan, pemeraman, pengeringan dan penuaan.
1. Pelayuan
Berbagai metode pelayuan yang dikenal antara lain :
a. Metode Bourbon: Perendaman pada air panas bersuhu 60-65oC, 1,5–3 menit.
b. Modifikasi Metode Bourbon yang digunakan di Madagaskar dan Comoro: Perendaman dalam air panas bersuhu 80ºC selama 30 menit.
c. Metode Meksiko: Pengeringan sinar matahari selama 5 jam
d. Metode Guadelupe: Penyayatan longitudinal dengan peniti pada buah panili
e. Metode Mayaguez, Puerto Rico: Pembekuan selama 40 jam, diikuti dengan pencairan selama dua jam.
Tahap ini juga dapat dilakukan dengan gas etilen maupun dengan pembekuan. Proses yang paling sering digunakan adalah pencelupan dalam air panas dan pengeringan dengan sinar matahari atau oven.
2. Pemeraman
Panili dibungkus dengan kain hitam dan dijemur pada rak dari pukul 9 pagi sampai dengan 3 sore dan kemudian disimpan di dalam kotak kayu mahagoni pada malam hari (metode yang digunakan oleh Meksiko, Madagaskar, Comoro dan Guadelupe). Perbedaan metode yang dilakukan pada setiap daerah terletak pada lama pemeraman dan jenis kayu yang digunakan. Tahap ini juga merupakan salah satu faktor yang turut menentukan mutu panili yang dihasilkan selama proses curing. Kadar air dihilangkan dengan cepat sampai pada kadar dimana resiko kebusukan paling rendah tetapi masih memungkinkan untuk berlangsungnya aktivitas enzim. Bila kondisi tepat untuk berlangsungnya aktivitas enzim maka dihasilkan panili kering (cured vanilla) bermutu tinggi, bila tidak maka dihasilkan panili kering bermutu rendah. Secara umum, pada tahap ini buah panili mengalami beberapa perubahan warna, aroma dan flavor. Warna buah berubah menjadi coklat karena oksidasi senyawa fenolik, gula dan asam-asam organik dimetabolisme serta ester, eter dan resin terbentuk. Kadar air buah panili setelah mengalami pemeraman menurun sampai mencapai 60-70 %.
3. Pengeringan
Panili dikeringkan pada oven dengan suhu 45ºC sampai mendapatkan tekstur yang fleksibel atau dikeringkan di bawah sinar matahari (metode yang digunakan oleh Mayaguez, Puerto Rico). Tujuan pengeringan adalah untuk mengurangi tingkat kerusakan karena pembusukan oleh mikroba dan untuk membuat kondisi yang memungkinkan untuk berlangsungnya perubahan kimiawi. Turunnya kadar air setelah pengeringan juga menurunkan aktivitas enzim yang tidak dikehendaki. Setelah pengeringan diharapkan kadar air buah tinggal 25-32 %.
4. Penuaan
Sebanyak 50-100 buah panili diikat dan dibungkus kertas minyak, dimasukkan dalam peti dan ditutup rapat. Peti disimpan dalam ruangan suhu 45oC selama 2-3 bulan. Selama penuaan, terjadi reaksi-reaksi seperti esterifikasi, eterifikasi, degradasi oksidatif, dan reaksi lain menghasilkan senyawa-senyawa volatil beraroma yang secara keseluruhan memperkuat mutu flavor panili yang dihasilkan.

Ekstraksi panili dapat dilakukan dengan beberapa cara maserasi, yaitu :
Microwave Assisted-Extraction
Ultrasonic Assisted-Extraction
Enzyme Assisted-Extraction

Panili dapat diekstrak menjadi produk-produk potensial yang dapat dikembangakan untuk meningkatkan nilai tambah dari panili tersebut seperti panili bubuk, produk aromaterapi, ekstrak panili pekat, dan pasta panili.



DAFTAR PUSTAKA

Anon. 2006. Vetiver essential information. file://C:\DOCUME~1\Pasca\LOCALS~1\Temp\J7SHE9R8.htm. 5 hal.
Agusta, Andria. 2002. Aromaterapi Cara Sehat dengan Wewangian Alami. Penebar Swadaya, Jakarta.
Boyce MC, Haddad PR, Sostaric T. 2003. Determination of flavour components in natural vanilla extracts and synthetics flavourings by mixed micellar electrokinetic capillarychromatography. Analytica Chimica Acta 485 (2003):179-186.
Deptan Dirjen Bina Produksi Perkebunan. 2004. Statistik Perkebunan Indonesia: Vanili 2001-2003. Jakarta: Dirjen Bina Produksi Perkebunan.
Emmyzar; S. Roechan; A.M. Kurniawansyah dan Pulung. 2000. Produktivitas dan kadar minyak tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides Stapt) di tanah tercemar logam berat cadmium. Jurnal ilmiah Pertanian Gakuryoku.VI (2) : 129-179.
Fruend, D. 1999. Does Ylang-ylang Injalation Have A Hypotensive Effect on Unmedicated Resting Blood Pressure in Individuals with Borderline Hypertension? (Unpublished Disssertation), Cited in Buckle J. Clinical Aromatheraphy 2nd.
Guenther, E. 1948. the Essential Oil. Volume I. D. Van Nostrands Company Inc., New York.
Hongratanaworakit T., G. Bucbauer. 2004. Evaluation of The Harmonizing Effect of Ylang-Ylang Oil in Human After Inhalation. Planta Med.
Kamal, C and R. Ashok. 2006. Modified vetiver oil : economic biopesticide. http://www.ars.usda.gov/research/publications/publications.htm?SE_Q NO_ 115=170715.
Ketaren, S. 1987. Eteris. Vol I. Terjemahan. UI Press, Jakarta.
Oyen LPA, NX Dung, (ed). 1999. Plant Resource of South-East Asia. Vol 119. Bogor, Indonesia: PROSEA Foundation.
Perez–Silva et al. 2005. GC-MS and GC-olfactometry analysis of aroma compounds in representative organic aroma extract from cured vanilla (Vanilla planifolia G. Jackson) beans. Food Chem.30(2006):30-30.
Rismunandar. 1988. Rempah-Rempah. CV. Sinar Baru, Bandung.

Share

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar